LOVE Story
Aku tak akan pernah berhenti, tak akan pernah jemu mengatakannya, tak akan pernah bosan mengungkapkannya, tak akan pernah sesal aku melakukan itu.
Aku hanya ingin kau
mengerti, hanya ingin kau tahu, hanya ingin kau paham, hanya ingin kau menoleh,
hanya ingin kau berkedip, hanya ingin merasakan satu saja hembusan nafasmu
untukku.
Menanti sebuah jawaban
atas segala pertanyaan dihatiku, yang setiap malam selalu terjatuh berwujud
setitik perasaan, alhasil sembablah mataku.
Langkahku tersendat, pikiranku tidak menentu, hatiku kacau balau
dikala merasakan kekaguman terhadap seseorang dengan berlebihan, memujanya
layaknya memuja dewa cinta.
Dengan harapan ingin
memilikinya, aku tetap berusaha membuat dia mengerti, membuatdia memahami
tentang apa yang kurasa.
Aku tak terlalu berharap tentang kebersamaan kita, karna
aku tau itu semu. Aku tak menginginkan kau membalas cinta, karna aku tahu itu
mustahil.
Tapi atas jerih-payahku
selama ini, apa yang aku dapat?
PENOLAKAN TANPA PERASAAN !
Kesal, kecewa, sedih !
Mengapa engkau tak kunjung
mengerti apa yang kurasakan?
“Bangunlah
!
Bangunlah wahai hatinya yang tidur
berselimutkan besi !
Lihatlah aku yang bergelimpangan harapan untuk
sekedar ingin mendapatkan perhatian
darimu, AKU MEMUJAMU !
Masih sanggupkah kau bangun dan tersentuh
melihatku, wahai hatinya? ”
Selama ini yang kudapat
hanya bualan belaka, tentang terlaranglah, agamalah, dosalah, apalah itu
sejenisnya aku tidak perduli.
“Bagaimana
dengan perasaanku?
Pernahkah
kau memikirkan itu? “
Terasa seperti sirine
ambulance, pertanyaanku berbalik menjadi menanyaiku.
“Pernahkah
aku memikirkan tentangnya?
Tentang
semua perkatannya?
“
Sekali lagi otak dan
hatiku berdiskusi. “Mengertilah adikku ”
, kata-katanya terus menjadi bahan diskusi otak dan hatiku.
“Mengapa
aku yang harus mengerti?
Seharusnya
dia yang harus mengerti perasaanku ! “
* *
*
00.13 WIB
Hasil diskusi otak dan
hatiku belum juga ditemukan.
“Otak dan hatiku? ”
Atau mungkin selama ini
aku hanya menuruti kata hatiku tanpa meminta persetujuan dari otakku? Hanya
mengikuti keinginan setan yang ada dalam aliran darahku?
Betapa bodohnya aku !
Malam ini menjadi malam renungan bagiku, “Larangan,
agama, dosa
“, sekali lagi aku memikirkan tentang kata-katanya. Pacaran? Jangankan untuk pacaran, setahuku di agama Islam bertatap
mata saja jika menimbulkan syahwat sama saja zina mata !
Astaghfirullah……
Apa yang telah kulakukan selama ini?
Membuang-buang waktu hanya
untuk memperbanyak dosa?
Membutakan mata hati dan
membiarkan setan menguasai diriku?
Aku tertidur lelap dalam
ketakutan atas apa yang telah aku perbuat.
* *
*
“Wahai
otakku,
selama ini mengapa engkau hanya terdiam
melihat tingkah laku bodohku?
Atau aku yang tidak mempergunakanmu dengan
baik? “
Rasanya aku ingin
meluapkan semua yang kurasakan, tapi kepada siapa?
“Diserahkan
saja kepada Allah dek
” , sekejap terlintas kata-kata darinya.
“Wahai otakku, kini aku meminta
pendapatmu
”
Lantas aku berkumur,
membasuh muka sambil membca niat, membasuh kedua tangan dan kedua telingaku,
terakhir kubasuh kedua kakiku dan membaca do’a.
Seumur hidup, baru kali
ini aku melaksanakan kewajiban tanpa paksaan orang lain. Lalu, kucurahkan semua
yang ada, menangis sejadi-jadinya. Alhasil ketenangan kurasa, lega.
* *
*
Tapi masalah hati tidak
bisa dipungkiri, ibarat kata “Sekali
cinta tetap cinta”
Tapi aku tidak bisa
memaksakan kehendak, mau tidak mau aku harus mengakhirinya karna aku yang telah
memulai semua kekacauan ini.
Ada satu hal yang ingin
sekali aku katakana kepadanya, tentang kesalahanku diawal perkenalan. Namun,
Subhanallah…..
Dengan bijak dia berkata “Tekadang
segala sesuatu lebih baik tidak dikatakan, walaupun terdapat pepatah lebih baik
dikatankan walau menyakitkan”
Tapi, jangan pikir melupakanmu itu mudah, jangan pikir
mencampakkanmu itu enteng, jangan fikir tak acuh kepadamu itu gampang.
SAKIT, PERIH, SEDIH,
MARAH, TAKUT !
Tapi aku menyadari bahwa
siska batin itu tidak lebih parah dari siksa jahanam.
Menjauh darimu, itulah satu-satunya cara akar aku bisa mengurangi
perasaanku yang berlebihan. Tapi betapa bijaksananya Tuhan, beliau memberiku
cobaan agar aku dapat lebih mudah mengurangi perasaanku, dengan ruang kelas
kita berdekatan. Itu akan membuatku marah dan benci ketika melihatmu.
Terkadang hati ini masih berdebar sangat kencang ketika
bayangmu melintas.
Dag…..
Dig…..
Dug…..
Bisa kurasakan debarannya
begitu kencang,
“Hee,
kok dilema men to, gampang tidak harus melupakan. Cukup dengan menyimpan dan
mengurangi perasaannya saja, gimana?”
Kata-katanya terngiang
dibenakku dan membuatku enggan untuk menengok banyangnya lagi. Taukah kau?
Ketika bibirku bungkam tak sanggup bicara, mungkin mataku bisa menunjukkan
sesuatu padamu.
Tapi juga jangan berfikir
kalau lantas aku membencimu, sebagai seorang muslim aku masih menjaga tali
silaturahmi diantara kita.
* *
*
“Okelah,
sekarang saya sudah mengerti gimana perasaan adek ke saya. Tapi soal
kebersamaan kita serahkan saja kepada Allak SWT”
Seperti nyamuk yang sedang mencari makan, kata-kata itu terus
berputar diotakku.
Mau tidak mau aku harus
mau menerima keadaan yang ada,
TIDAK !
Aku harus belajar menerima
keadaan dengan ikhlas, dan berusaha untuk menggunakan sisa hidupku dengan baik.
Mempersiapkan bekal untuk
kehidupan akhirat yang kekal abadi, daripada mencari kesenangan untuk hidup
didunia yang haya sekejap mata saja.
* *
*
Tuhan benar-benar baik,
beliau memperkenankanku untuk sedikit mengenalmu.
Tuhan benar-benar mulia,
beliau memperkenankanku untuk tau siapa dirimu.
Tuhan benar-benar adil,
beliau memperkenankanku untuk memilih jalanku sendiri diantara pilihan yang
telah beliau sediakan.
Kini aku melangkah dengan tegap, dengan mata bersinar karna
tiada lagi air mata, dan hati yang tenang karna berusaha menerima keadaan
dengan ikhlas, serta pikiran yang jernih karna akhirnya Allah memberikanku
jawaban atas segala pertanyaanku melalui “dia” yang sempat kukagumi dengan
berlebihan.
Semua gundah, resah, ragu,
gelisah, tangis, tawa, serta suka dan duka, kuserahkan pada-Mu, ya Allah.
Tiada lain yang bisa
memahami diriku kecuali diri-Mu, tak akan bisa aku ada di dunia ini tanpa
kasih-Mu, tak akan bisa aku merasakan sedih dan senang tanpa perhatian dari-Mu.
Tak akan pernah bisa
mengerti bahwa seluruh nafas ini hanya untuk-Mu, dan betapa berartinya hidup
jika kita terus mengingat kepada-Mu, dan niscaya kita akan menuai hasil dari
apa yang telah kita perbuat selama hidup, tanpa kemurahan hati-Mu.
Semua rasa cintaku untuknya kuserahkan padamu ya Rabbi,
jika dia memang untukku, aku percaya kelak Engkau akan mempertemukan kami
kembali. Jika dia memang bukan untukku, aku berterima kasih karna Engkau telah
memberiku kesempatan untuk mengenal dan mengetahui tentang dirinya.
* *
*
Hidup ini indah jika kita selalu mengingat dari mana kita
berasal dan kemana kita akan kembali. Untuk siapa seluruh nafas ini, untuk
siapa seluruh cinta ini, kepada siapa kita seharusnya memuja, Allah semata.
Beliau memberi banyak sekali pilihan, kita hanya tinggal memilih jalan kita
sendiri. Memilih jalan yang lurus, atau yang berliku-liku.
Semua telah tergariskan
dengan indah, percayalah bahwa itu yang terbaik untuk kita.
“Cinta
sejati bukanlah cinta sehidup semati, tapi cinta yang tulus murni dan sejati
adalah cinta kepada Illahi”
(Septria
Ay/XI PS 3)

ciehh uun, blog walking un..
BalasHapusfollow-followan yuks, kolom followermu mana?
ayo kunjungi blogku lagi http://sembilanpuluhsembilankomasembilan.blogspot.com/ haha :D