Selasa, 21 Agustus 2012


LOVE Story         

       Aku tak akan pernah berhenti, tak akan pernah jemu mengatakannya, tak akan pernah bosan mengungkapkannya, tak akan pernah sesal aku melakukan itu.

Aku hanya ingin kau mengerti, hanya ingin kau tahu, hanya ingin kau paham, hanya ingin kau menoleh, hanya ingin kau berkedip, hanya ingin merasakan satu saja hembusan nafasmu untukku.
Menanti sebuah jawaban atas segala pertanyaan dihatiku, yang setiap malam selalu terjatuh berwujud setitik perasaan, alhasil sembablah mataku.
Langkahku tersendat,  pikiranku tidak menentu, hatiku kacau balau dikala merasakan kekaguman terhadap seseorang dengan berlebihan, memujanya layaknya memuja dewa cinta.
Dengan harapan ingin memilikinya, aku tetap berusaha membuat dia mengerti, membuatdia memahami tentang apa yang kurasa.
          Aku tak terlalu berharap tentang kebersamaan kita, karna aku tau itu semu. Aku tak menginginkan kau membalas cinta, karna aku tahu itu mustahil.
Tapi atas jerih-payahku selama ini, apa yang aku dapat?
PENOLAKAN TANPA PERASAAN !
Kesal, kecewa, sedih !
Mengapa engkau tak kunjung mengerti apa yang kurasakan?
Bangunlah !
 Bangunlah wahai hatinya yang tidur berselimutkan besi !
 Lihatlah aku yang bergelimpangan harapan untuk sekedar ingin mendapatkan perhatian
 darimu, AKU MEMUJAMU !
 Masih sanggupkah kau bangun dan tersentuh melihatku, wahai hatinya?
Selama ini yang kudapat hanya bualan belaka, tentang terlaranglah, agamalah, dosalah, apalah itu sejenisnya aku tidak perduli.
Bagaimana dengan perasaanku?
Pernahkah kau memikirkan itu?
Terasa seperti sirine ambulance, pertanyaanku berbalik menjadi menanyaiku.
Pernahkah aku memikirkan tentangnya?
Tentang semua perkatannya?
Sekali lagi otak dan hatiku berdiskusi. “Mengertilah adikku ” , kata-katanya terus menjadi bahan diskusi otak dan hatiku.
Mengapa aku yang harus mengerti?
Seharusnya dia yang harus mengerti perasaanku !

* * *
00.13 WIB
Hasil diskusi otak dan hatiku belum juga ditemukan.
          “Otak dan hatiku?
Atau mungkin selama ini aku hanya menuruti kata hatiku tanpa meminta persetujuan dari otakku? Hanya mengikuti keinginan setan yang ada dalam aliran darahku?
Betapa bodohnya aku !
          Malam ini menjadi malam renungan bagiku, “Larangan, agama, dosa “, sekali lagi aku memikirkan tentang kata-katanya. Pacaran? Jangankan untuk pacaran, setahuku di agama Islam bertatap mata saja jika menimbulkan syahwat sama saja zina mata !
Astaghfirullah……
          Apa yang telah kulakukan selama ini?
Membuang-buang waktu hanya untuk memperbanyak dosa?
Membutakan mata hati dan membiarkan setan menguasai diriku?
Aku tertidur lelap dalam ketakutan atas apa yang telah aku perbuat.

* * *
Wahai otakku,
  selama ini mengapa engkau hanya terdiam melihat tingkah laku bodohku?
  Atau aku yang tidak mempergunakanmu dengan baik? “ 
Rasanya aku ingin meluapkan semua yang kurasakan, tapi kepada siapa?
Diserahkan saja kepada Allah dek ” , sekejap terlintas kata-kata darinya.
                   “Wahai otakku, kini aku meminta pendapatmu
Lantas aku berkumur, membasuh muka sambil membca niat, membasuh kedua tangan dan kedua telingaku, terakhir kubasuh kedua kakiku dan membaca do’a.
Seumur hidup, baru kali ini aku melaksanakan kewajiban tanpa paksaan orang lain. Lalu, kucurahkan semua yang ada, menangis sejadi-jadinya. Alhasil ketenangan kurasa, lega.

* * *
Tapi masalah hati tidak bisa dipungkiri, ibarat kata “Sekali cinta tetap cinta
Tapi aku tidak bisa memaksakan kehendak, mau tidak mau aku harus mengakhirinya karna aku yang telah memulai semua kekacauan ini.
Ada satu hal yang ingin sekali aku katakana kepadanya, tentang kesalahanku diawal perkenalan. Namun, Subhanallah…..
Dengan bijak dia berkata “Tekadang segala sesuatu lebih baik tidak dikatakan, walaupun terdapat pepatah lebih baik dikatankan walau menyakitkan
          Tapi, jangan pikir melupakanmu itu mudah, jangan pikir mencampakkanmu itu enteng, jangan fikir tak acuh kepadamu itu gampang.
SAKIT, PERIH, SEDIH, MARAH, TAKUT !
Tapi aku menyadari bahwa siska batin itu tidak lebih parah dari siksa jahanam.
          Menjauh darimu, itulah satu-satunya cara akar aku bisa mengurangi perasaanku yang berlebihan. Tapi betapa bijaksananya Tuhan, beliau memberiku cobaan agar aku dapat lebih mudah mengurangi perasaanku, dengan ruang kelas kita berdekatan. Itu akan membuatku marah dan benci ketika melihatmu.
          Terkadang hati ini masih berdebar sangat kencang ketika bayangmu melintas.
Dag…..
Dig…..
Dug…..
Bisa kurasakan debarannya begitu kencang,
Hee, kok dilema men to, gampang tidak harus melupakan. Cukup dengan menyimpan dan mengurangi perasaannya saja, gimana?
Kata-katanya terngiang dibenakku dan membuatku enggan untuk menengok banyangnya lagi. Taukah kau? Ketika bibirku bungkam tak sanggup bicara, mungkin mataku bisa menunjukkan sesuatu padamu.
Tapi juga jangan berfikir kalau lantas aku membencimu, sebagai seorang muslim aku masih menjaga tali silaturahmi diantara kita.

* * *
Okelah, sekarang saya sudah mengerti gimana perasaan adek ke saya. Tapi soal kebersamaan kita serahkan saja kepada Allak SWT
          Seperti nyamuk yang sedang mencari makan, kata-kata itu terus berputar diotakku.
Mau tidak mau aku harus mau menerima keadaan yang ada,
TIDAK !
Aku harus belajar menerima keadaan dengan ikhlas, dan berusaha untuk menggunakan sisa hidupku dengan baik.
Mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal abadi, daripada mencari kesenangan untuk hidup didunia yang haya sekejap mata saja.

* * *
Tuhan benar-benar baik, beliau memperkenankanku untuk sedikit mengenalmu.
Tuhan benar-benar mulia, beliau memperkenankanku untuk tau siapa dirimu.
Tuhan benar-benar adil, beliau memperkenankanku untuk memilih jalanku sendiri diantara pilihan yang telah beliau sediakan.
          Kini aku melangkah dengan tegap, dengan mata bersinar karna tiada lagi air mata, dan hati yang tenang karna berusaha menerima keadaan dengan ikhlas, serta pikiran yang jernih karna akhirnya Allah memberikanku jawaban atas segala pertanyaanku melalui “dia” yang sempat kukagumi dengan berlebihan.
Semua gundah, resah, ragu, gelisah, tangis, tawa, serta suka dan duka, kuserahkan pada-Mu, ya Allah.
Tiada lain yang bisa memahami diriku kecuali diri-Mu, tak akan bisa aku ada di dunia ini tanpa kasih-Mu, tak akan bisa aku merasakan sedih dan senang tanpa perhatian dari-Mu.
Tak akan pernah bisa mengerti bahwa seluruh nafas ini hanya untuk-Mu, dan betapa berartinya hidup jika kita terus mengingat kepada-Mu, dan niscaya kita akan menuai hasil dari apa yang telah kita perbuat selama hidup, tanpa kemurahan hati-Mu.
          Semua rasa cintaku untuknya kuserahkan padamu ya Rabbi, jika dia memang untukku, aku percaya kelak Engkau akan mempertemukan kami kembali. Jika dia memang bukan untukku, aku berterima kasih karna Engkau telah memberiku kesempatan untuk mengenal dan mengetahui tentang dirinya.

* * *
          Hidup ini indah jika kita selalu mengingat dari mana kita berasal dan kemana kita akan kembali. Untuk siapa seluruh nafas ini, untuk siapa seluruh cinta ini, kepada siapa kita seharusnya memuja, Allah semata. Beliau memberi banyak sekali pilihan, kita hanya tinggal memilih jalan kita sendiri. Memilih jalan yang lurus, atau yang berliku-liku.
Semua telah tergariskan dengan indah, percayalah bahwa itu yang terbaik untuk kita.

Cinta sejati bukanlah cinta sehidup semati, tapi cinta yang tulus murni dan sejati adalah cinta kepada Illahi
(Septria Ay/XI PS 3)